Desain Vaksin Hepatitis B untuk Indonesia

Tags: desain vaksin hepatitis b

Desain Vaksin Hepatitis B untuk Indonesia

VAKSINASI hepatistis B yang selama ini dilakukan mampu menurunkan angka kesakitan. Namun, keberhasilan vaksinasi terancam oleh adanya escape mutant atau virus mutasi yang lolos. Hal ini antara lain akibat vaksin yang dibuat bukan berdasarkan galur virus lokal sehingga antibodi yang terbentuk tidak mampu membunuh virus hepatitis B yang ada.
Seorang peneliti senior dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dr David Handojo Muljono PhD SpPD mengusulkan desain vaksin hepatitis B yang cocok untuk Indonesia. Rancangannya disajikan dalam International Meeting on Liver Diseases beberapa hari lalu di Jakarta.
Menurut David, infeksi hepatitis B merupakan problem kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Diperkirakan ada 350 juta carrier (pengidap) di dunia. Pada penderita hepatitis B kronis, bisa timbul komplikasi seperti sirosis (pengerasan hati) dan kanker hati.
Prevalensi rata-rata hepatitis B di Indonesia 10 persen. Variasi berkisar 3,4-20,3 persen di setiap daerah. Di luar Jawa, kecuali Lombok dan Sumbawa, umumnya prevalensi rendah.
Upaya vaksinasi mampu menurunkan jumlah pengidap virus hepatitis B dan angka kesakitan akut. Pemerintah Indonesia saat ini telah mengintegrasikan vaksinasi hepatitis B untuk balita ke dalam Program Pengembangan Imunisasi (Extended Program of Imunization/EPI).
Namun, upaya ini menghadapi tantangan, yaitu adanya nonresponder atau orang yang divaksinasi, tetapi tidak tumbuh antibodinya. Penyebabnya, bisa karena vaksin kurang imunogenik atau vaksin mudah mengalami netralisasi. Selain itu, muncul varian dan mutan dari virus hepatitis B.
“Mutan dan varian ini bisa tidak terdeteksi oleh tes yang ada, bisa bereplikasi dalam tubuh orang yang telah divaksinasi. Hal ini telah dilaporkan beberapa negara. Yang perlu diwaspadai adalah timbulnya escape mutant, yaitu mutasi pada seseorang yang punya kekebalan,” ujar David.
Varian adalah bentuk berbeda-beda dari virus yang terjadi secara alami lewat proses seleksi dalam waktu cukup lama. Di setiap ras atau wilayah geografi, ada populasi virus hepatitis B yang bertahan, ada yang terhambat sehingga varian virus yang berkembang di setiap daerah/ras berlainan.
Mutasi virus terjadi dalam waktu yang lebih pendek. Hal itu terjadi karena tekanan dari host akibat daya tahan tubuh, misalnya, karena diberi antibodi monoklonal atau divaksinasi.
Sejumlah escape mutant ditemukan di seluruh dunia. Di Indonesia, mutasi terjadi antara lain pada determinan alfa, pada asam amino 129, 130, 138, 142, 143, 144, dan 145.

Selain itu, ditemukan DNA virus hepatitis B pada orang yang telah divaksinasi. Penelitian dilakukan pada 66 anak yang divaksinasi tahun 1987-1991 di Lombok—tetapi masih menunjukkan jejak virus hepatitis B dalam tubuhnya. Ibunya juga diteliti. Hasilnya, ditemukan mutasi gen S pada 18 contoh darah anak dan 12 contoh darah ibu.

“Sebaiknya, vaksinasi hepatitis B dilakukan dengan vaksin rekombinan yang didesain dari strain/galur lokal. Vaksin yang bukan berdasarkan galur lokal tidak menimbulkan kekebalan terhadap virus lokal, bahkan menimbulkan escape mutant,” papar David.

Ada dua model desain vaksin yang diusulkan David.
Pertama, vaksin konvensional yang mengandung virus hepatitis B serotipe adr dan ayw dari genotipe B atau C ditambah galur virus yang mengandung mutasi G145R (escape mutant).

Kedua, campuran virus hepatitis B serotipe adr dan ayw dari genotipe B atau C ditambah gen Pre-S2 dari protein selubung virus hepatitis B genotipe B dan C di Indonesia.

Usulan desain itu didasarkan pada penelitian serologi di Indonesia yang menunjukkan adanya heterogenesis subtipe virus Hepatitis B, yaitu adw, adr, ayw, dan ayr. Di Indonesia bagian Barat (Sumatera sampai Lombok) yang dominan adalah adw. Di Irian adr, dan ayw sesuai wilayah terdekatnya.

Yang terhitung jarang ditemukan adalah ayr. Baru-baru ini ditemukan pada contoh darah dari Kutai, Kalimantan Timur, yang diambil tahun 2000. Serotipe itu sama dengan yang ditemukan di Kecamatan Bayan, Lombok, 15 tahun lalu.

Saat ini diketahui ada tujuh genotipe hepatitis B, yaitu A,B,C,D,E,F, dan G. Genotipe B dan C banyak di Asia, terutama di bagian timur, sedang genotipe G baru diidentifikasi tahun 2000 dari contoh darah penduduk AS.

Setelah memetakan serotipe virus hepatitis B, tahun ini Lembaga Eijkman mulai meneliti distribusi genotipe virus hepatitis B di Indonesia. Penelitian awal memastikan, genotipe B dan C ada di Indonesia.

“Vaksin hepatitis B yang ideal adalah yang imunogenik (menimbulkan kekebalan), menimbulkan perlindungan total terhadap pelbagai galur virus hepatitis B, serta mampu menundukkan escape mutant,” ujar David.

Pengkajian kembali terhadap cara penapisan darah terhadap hepatitis B diperlukan. Pasalnya, hasil pemeriksaan terhadap 310 contoh donor darah yang lolos tes hepatitis B ternyata ada 25 contoh yang mengandung DNA virus hepatitis B saat diperiksa dengan nested Polymerase Chain Reaction (PCR). (atk)


Sumber : Kompas, Senin, 24 September 2001

Related Article :


Type somethings in the text box below to begin searching