Tifus

Tags: tifus, typoid fever

Tifus atau Typhoid Fever

Penyakit tifus atau Typhoid fever, sering disebut juga dengan enteric fever, bilious fever atau Yellow Jack, disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi dan paratyphi. Kuman ini biasanya hidup di dalam air. Kuman ini akan mati bila air dipanaskan hingga 100 derajat celcius. Apabila kuman ini masuk dalam jumlah besar ke tubuh maka seseorang yang daya tahan tubuhnya tidak baik (tidak fit), maka dapat terserang penyakit Tifus.

Terdapat ratusan jenis bakteri Salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu Salmonella serovarian typhi, paratyphi A,paratyphi B, dan paratyphi C. Di Indonesia tifus merupakan penyakit endemis yang berarti kasusnya selalu ada sepanjang tahun. Umumnya penderita tifus meningkat, terutama pada musim kemarau. Saat musim itu terjadi kekurangan sumber air bersih dan sumber air yang ada mudah tercemar.

Setiap tahun penderita tifus di daerah perkotaan di Indonesia mencapai angka 700-800 kasus per 100.000 penduduk. Demam tifoid atau tifus terjadi apabila seseorang terinfeksi kuman Salmonella, yang umumnya melalui makanan atau minuman yang tercemar.Apabila jumlah kuman yang masuk ke tubuh cukup untuk menimbulkan infeksi, kuman akan menempel pada saluran cerna kemudian berkembang biak.Kemudian kuman menembus dinding usus dan masuk ke aliran darah sehingga menyebar ke seluruh tubuh; menimbulkan infeksi pada organ tubuh lain di luar saluran cerna.

Penyebaran penyakit ini diperantarai makanan atau air yang terkontaminasi oleh feses dari orang yang menderita tifus. Kemudian, bakteri akan berkembang dalam jaringan darah dari orang yang terinfeksi. Bakteri ini termasuk ke dalam bakteri Gram negatif yang berbentuk batang dan bergerak menggunakan flagela yang tumbuh cepat pada suhu badan manusia (37ºC).

Ada kalanya kuman tidak cukup virulen untuk menyerang dan hanya menimbulkan infeksi lokal di saluran cerna dengan gejala perut kembung,mual atau diare, keadaan ini disebut dengan Salmonelosis. Karena tifus merupakan infeksi yang menyebar melalui darah atau disebut infeksi yang sistemik; gejala yang khas pada tifus adalah demam. Demam pada tifus umumnya memiliki pola khusus, dengan suhu yang meningkat sangat tinggi (mencapai 40ºC atau lebih) naik dan turun; dan umumnya meningkat pada sore dan malam hari.

Pada beberapa hari pertama demam, sering kali sulit membedakan apakah demam disebabkan oleh tifus atau oleh penyebab demam lain, seperti demam berdarah atau malaria. Pola demam yang disebabkan demam berdarah umumnya meningkat mendadak,dengan suhu sangat tinggi,dan demam akan turun secara cepat di hari ke-5 atau 6.Bilamana demam sudah berlangsung lebih dari 7 hari, sangat mungkin demam disebabkan oleh tifus dan bukan demam berdarah.

Gejala yang ditimbulkan penyakit ini adalah panas dengan suhu hingga 40ºC (104ºF), terjadi gastro enteritis serta diare tanpa disertai darah. Sedikit diantaranya menunjukkan adanya spot atau bercak dengan warna merah. Ada juga yang terinfeksi, akan tetapi tidak menunjukkan gejala, penderita ini disebut dengan asymptomatic carrier dari tifus. Carier atau pembawa dapat menularkan infeksi ini pada orang lain.

Secara umum gejala dari penyakit Tifus adalah sbb :
- Demam lebih dari 5 hari
- Sakit kepala
- Demam terjadi terutama di malam hari
- Diare atau sulit buang air besar
- Mual, muntah

Gejala tifus dibagi menjadi tiga tahap.

Pada minggu pertama,
kenaikan temperatur demam sangat pelan, yang diikuti dengan bradikardia yaitu denyut jantung kurang dari 60 per menit, sakit kepala, dan batuk. Selain itu, dapat terjadi epistaksis atau mimisan yang muncul pada seperempat kasus dan juga timbul rasa sakit pada daerah perut. Adanya bakteri ini pada darah menyebabkan leukopenia (turunnya jumlah granul eosinofil darah) dan limfositosis (meningkatnya jumlah limfosit pada darah). Diagnosis pada minggu pertama dengan Test Widal, merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan untuk mendiagnosis penyakit tifus.

Test widal adalah suatu pemeriksaan serologi yang berarti bahwa hasil uji widal positif menunjukkan adanya zat anti (antibodi) terhadap kuman Salmonella. Uji widal positif menunjukkan bahwa seseorang pernah kontak/terinfeksi dengan kuman Salmonella tipe tertentu. Untuk menentukan seseorang menderita demam tifoid, tetap harus didasarkan adanya gejala yang sesuai dengan penyakit tifus; uji widal hanya sebagai pemeriksaan yang menunjang diagnosis. Sebaliknya, seorang tanpa gejala, dengan uji widal positif tidak dapat dikatakan menderita tifus.

Beberapa hal yang sering disalahartikan dari pemeriksaan widal adalah: Pemeriksaan widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh: Seperti disebutkan di atas bahwa uji widal hanya menunjukkan adanya antibodi terhadap kuman Salmonella. Pemeriksaan widal yang diulang setelah pengobatan dan menunjukkan hasil positif dianggap masih menderita tifus: Setelah seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan, hasil uji widal tetap positif untuk waktu yang lama sehingga uji widal tidak dapat digunakan sebagai acuan untuk menyatakan kesembuhan.

Hasil ulang pemeriksaan widal positif setelah mendapat pengobatan tifus, bukan indikasi untuk mengulang pengobatan bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang sesuai. Hasil uji negatif dianggap tidak menderita tifus: Uji widal umumnya menunjukkan hasil positif 5 hari atau lebih setelah infeksi. Karena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa hari, sering kali hasilnya masih negatif dan baru akan positif bilamana pemeriksaan diulang. Dengan demikian,hasil uji widal negatif,terutama pada beberapa hari pertama demam belum dapat menyingkirkan kemungkinan tifus.

Memang terdapat kesulitan dalam interpretasi hasil uji widal karena kita tinggal di daerah endemik,yang mana sebagian besar populasi sehat juga pernah kontak atau terinfeksi, sehingga menunjukkan hasil uji widal positif. Hasil survei pada orang sehat di Jakarta pada 2006 menunjukkan hasil uji widal positif pada 78% populasi orang dewasa. Untuk itu perlu kecermatan dan kehatihatian dalam interpretasi hasil pemeriksaan widal.

Pada minggu kedua
dari masa infeksi, akan terjadi panas yang tinggi yang terkadang disebut dengan “nervous fever” dan bradikardia yang disebut dengan Sphygmo-thermic dissociation. Terkadang muncul bercak merah pada daerah di bawah dada dan daerah perut, di mana hal ini hanya terjadi pada 1/3 dari pasien yang menderita tifus. Pada minggu kedua ini juga bisa terjadi diare enam hingga delapan kali perhari, dengan warna kehijauan dan bau yang khas, akan tetapi konstipasi juga bisa terjadi. Kadang terdengar suara dari perut yang diakibatkan oleh pergerakan gas di dalam intestin yang disebut dengan “Borborygmus”. Pembesaran hati akan terjadi jika telah maemasuki minggu kedua ini. Pada tahap inilah tes Widal dapat menunjukkan hasil yang positif.

Pada minggu ketiga, terjadi komplikasi diantaranya:

  • Terjadi pendarahan pada daerah Payer’s patches yang serius tapi tidak fatal. Payer’s patchesusus. Funginya adalah untuk bertanggung jawab atas respon imun pada daerah gastrointestinal dengan menghasilkan mukosa.
  • Septicaemia (keracunan pada darah) atau peradangan pada daerah peritonium yang merupakan membran pada daerah perut.
  • Enchephalitis yaitu terjadi inflamasi akut pada otak akibat infeksi bakteri ataupun virus.
  • Abses atau luka

Tifus ini tergolong pada kasus yang tidak fatal. Untuk pengobatannya, biasanya digunakan antibiotik seperti ampisilin, klorampenikol, trimetoprim-sulfametoxazole, dan ciprofloxacin. Jika tidak dilakukan pengobatan, panas dapat berlangsung selama tiga minggu hingga satu bulan dan dapat berakhir pada kematian. Penggunaan antibiotik perlu diperhatikan agar tidak terjadi resistensi, yaitu tidak menghentikan penggunaan antibiotik sampai satu kali resep yang telah diberikan habis.

Cara mencegahnya:

  • Jangan minum air yang belum dimasak (belum matang)
  • Bila ingin jajan di pingir jalan yang belum jelas apakah airnya dimasak atau tidak, yakinlah bahwa badan kita dalam keadaan yang fit sehingga daya tahan tubuh kita (leukosit) dapat menghancurkan kuman-kuman itu
  • Menjaga kebersihan peralatan makan
  • Menjaga daya tahan tubuh agar selalu fit dengan makanan, gizi seimbang, istirahat yang cukup, olah raga, rileks (tidak stress/tegang)
  • Untuk menghindari penyebaran kuman, Buang air besar sebaiknya pada tempatnya jangan dikali atau sungai
Learn more about Typhoid from the books below.

Related Article :


Type somethings in the text box below to begin searching